Monday, 22 August 2016

Tafakur terhadap Gunung

Kalau kita tinggal atau pergi ke kota Semarang, tentu akan tahu bagaimana kreativitas para perancang kota menata kawasan yang berbukit-bukit, bergunung-gunung menjadi sebuah kota yang cukup ramai. Ini luar biasa. Kalau kita berada di suatu kawasan di Semarang kemudian menengok ke kanan, kiri pasti akan melihat perbukitan yang penuh berjejal dengan bangunan. Suatu keindahan tersendiri. Mungkin juga akan didapati di kota-kota lainnya di Indonesia atau di dunia. Mengenai hal itu, jadi teringat dengan sebuah perenungan mengenai gunung.

Alkisah ada seorang anak yang menyampaikan rasa ingintahunya kepada bapaknya. “Pak, seperti apa ya wujud asli gunung itu?” Sang bapak tidak langsung memberi jawaban. Ia hanya berkata, “Okelah, mari kita berangkat ke suatu tempat untuk melihat bagaimana wujud asli gunung itu. Nanti di sana akan kamu lihat bagaimana wujud gunung itu.”

Kemudian akhirnya mereka berdua berangkat dengan mengendarai sebuah mobil tua. Perjalanan yang mereka lakukan lumayan lama. Jarak antara rumah yang mereka tinggali dengan gunung yang paling dekat saja bisa menempuh waktu selama empat jam dengan mengendari mobil tua itu. Jarak itu terhitug relatif jauh. Atau mungkin bisa dikatakan sangat jauh.

Ketika perjalanan yang mereka lakukan sudah menempuh hampir setengahnya, anak itu mulai girang lalu berteriak, “Asyik, gunungnya sudah terlihat.” Dari dalam mobil, sebuah gunung terlihat berwarna biru dengan begitu anggunnya. Puncaknya terlihat menjulang ke langit dan seolah menembus gugusan awan putih. “Ahai, betapa indahnya gunung itu,” kata sang anak. Ia begitu mengagumi keindahan pemandangan yang ia lihat.

Sementara, mobil pun terus berjalan. Jalanan yang mereka lalui tidak lagi datar dan lurus, namun mulai naik turun dan berkelok-kelok. Gunung pun mulai terlihat berubah. Ia kelihatan hijau karena dedaunan. Anak itu berkata lagi, “Oh, gunung itu berubah mejadi hijau. Ada pohon besar maupun kecil yang sangat banyak.”

Sambil menikmati indahnya pemandangan di kanan kiri jalan yang mereka lalui, anak itu teringat sebuah lantunan tembang: “Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…” Sampai akhirnya, mobil mereka hetikan pada sebuah tempat datar yang sangat tinggi. Tidak terlalu luas memang, hanya cukup untuk memarkir sebuah mobil. Dari tempat itulah mereka tidak hanya melihat wujud asli sebuah gunung, akan tetapi juga bisa menyentuh dan menapakkan kaki di sebuah gunung. Mereka kini sudah berada di puncak salah satu gunung yang barangkali terlihat dari rumah mereka tetapi tak terlalu diperhatikan gunung yang mana pasnya.

“Gunungnya mana, Pak?” anak itu bertanya keheranan kepada bapaknya. “Inilah wujud gunung yang biasa kamu lihat itu, Nak. Tanah yang kita tapaki ini lah gunuh itu,” jawab sang bapak sambil menjejak-jejakkan kakinya ke tanah. Anak itu belum begitu mengerti. “Ini? Tanah seperti ini? Hanya tanah berkerikil dan bebatuan serta rerimbunan pohon ini? Itu ada sungai kecil pun keruh?”

Sang bapak mengangguk meyakinkan. Ia melihat wajah kecewa yang sangat mendalam pada diri anak kesayangannya. “Sayang, ayo kita pulang. Mari kita nikmati saja gunung-gunung ini dari kejauhan, dari rumah kita. Barangkali, dari sanalah justeru kamu akan menikmati bahwa gunung itu indah…”

***

Kawan, ketika di antara kita sudah menjadi seolah ‘gunung-gunung’ di suatu masyarakat, yang wajahnya selalu dilihat oleh orang, suaranya selalu didengar orang, pasti akan muncul penasaran dari sekian banyak orang yang selalu melihat kita dan selalu mendengar kita berbicara. Mereka juga seringkali ingin tahu, seperti apakah wujud dan sosok kita dalam keseharian ketika dilihat dari dekat: tutur katanya, kebiasaannya, perilakunya, kehidupannya, dan hal-hal yang lain.

Namun sayang, ‘gunung’ yang kelihatannya indah jika dilihat dari kejauhan itu benar-benar memiliki keindahan yang hakiki. Seolah mereka hanya memoles diri agar terlihat indah dari jauh tapi tidak membangun diri dengan yang indah. Para pengagum yang ingin lebih mendekat kepada ‘gunung’ itu pun akhirnya pasti akan menelan kekecewaan. Ternyata, ‘gunung’ yang selama ini terlihat indah itu, menyimpan banyak cacat. Menyimpan banyak keburukan. Apa yang selama ini terlihat sebagai suatu keindahan ternyata semu.

Maka, mari kita membangun ‘gunung-gunung’ diri agar benar-benar indah seperti saat dilihat dari kejauhan. Jangan membiarkan orang-orang yang selama ini kagum, menjadi kecewa. Tentunya tak ingin banyak orang mengatakan tentang kita, “Tak usah mendekati dia. Ia hanya indah jika dilihat dari kejauhanlah …”

Tuesday, 26 July 2016


Penulis: Nassirun Purwokartun
Sinopsis:
Penangsang tidak mati terbunuh dengan kondisi usu terbuai keluar seperti yang dipahami kebanyakan masyarakat. Peristiwa malam penyerbuan Pajang ke Jipang itu tetap minjadi misteri. Kalau bukan Penangsang yang terbunuh, lantas siapa orang yang berlari dengan memegang usus terbuai keluar kemudian dihabisi oleh Sutawijaya pada malam itu? Teka-teki yang disuguhkan dalam Novel Penangsang, Tarian Rembulan Luka di bagian akhir itu membuat siapa pun penasaran akan kelanjutan kisah perjalanan sosok Penangsang. Hadirnya seri ke empat Novel Penangsang dengan judul Lukisan Sembilan Cahaya ini salah satunya untuk menegaskan dan menjawab teka-teki itu.
Penangsang, Lukisan Sembilan Cahaya ini diawali dari kisah malam penyerbuan pasukan Pajang ke Jipang untuk memburu dan membunuh Mataram dan Penangsang. Kakak beradik anak Pangeran Sekar itu telah mendapatkan vonis dari majelis Jeksa untuk dihukum pati. Majelis jeksa yang dikendalikan Karebet setelah dia berhasil menyingkirkan para Ulama dalam lembaga dewan wali dengan membubarkannya. Dikisahkan dalam peristiwa penyerbuan itu penuh dengan tragedi dan intrik. Patih Matahun yang mendampingi Penangsang sejak kecil terbunuh dalam peperangan itu. Mataram yang menghadapi pasukan Pajang itu dianggap sebagai Penangsang oleh penyerbu. Padahal Penangsang tengah meloloskan diri dari Jipang. Penangsang mendapatkan mandat dari Sang guru, Sunan Kudus untuk berhijrah ke tanah seberang, Palembang. Mataram yang menggantikan posisi Penangsang sebagai Adipati Jipang malam itu mendapat serangan yang sangat tidak seimbang. Mataram hampir saja tewas dikeroyok oleh pasukan Pajang. Akan tetapi ketika Mataram posisinya terdesak tiba-tiba muncul Gagak Rimang, kuda tunggangan Penangsang yang ditunggangi oleh seseorang yang menggunakan jubah Kalipatullah yang biasanya digunakan oleh Penangsang.
Kedatangan Gagak Rimang dengan penunggangnya yang menggunakan Jubah Kalipatullah itu membuat bingung sebagian besar penyerbu dari Pajang. Mereka semula beranggapan bahwa  yang mereka keroyok habis itu adalah Penangsang. Ternyata muncul Gagak Rimang dengan penunggang berjubah Kalipatullah yang sangat identik dengan Penangsang. Akhirnya para prajurit Pajang itu pun beralih mengepung Gagak Rimang. Mataram, yang sebelumnya mereka sangka sebagai Penangsang, mereka tinggalkan. Posisi yang tadinya terdesak membuat Mataram leluasa untuk meloloskan diri.
Sementara pasukan Pajang beralih menyerbu Gagak Rimang yang sangat identik dengan Penangsang, para pemikir yaitu Ki Juru, Ki Pemanahan, dan Penjawi mencari cara untuk menghabisi Penangsang. Mereka memancing Gagak Rimang agar tidak konsen dengan pertempuran. Mereka membuat umpan dengan melepaskan seekor kuda betina untuk menggoda Gagak Rimang. Benar yang terjadi. Gagak Rimang tergoda dnegan kuda betina itu sehingga tidak konsen dengan peperangan. Ia mulai sulit dikendalikan dan terus terpancing untuk mengejar kuda betina. Dengan posisi demikian kemudian Sutawijaya menusukkan tombak pada perut penunggang Gagak Rimang yang dianggap sebagai Penangsang. Seketika, isi dari perut penunggang Gagak Rimang itu keluar. Ususnya terlihat terbuai keluar. Darah bercucuran. Usus itu kemudian dipegang dan dikalungkan agar tidak terus terbuai. Sutawijaya malah lari ketakutan. Karena terus dikejar oleh orang yang ususnya keluar itu, Sutawijaya akhirnya menghabisinya. “Memedi usus” itu akhirnya jatuh terkulai.
Pajang berteriak girang bahwa Penangsang telah mampus.  Mereka merayakan. Mereka bersorak dan terus bersorak Penangsan telah tewas. Mereka kumandangkan teriakan itu untuk meruntuhkan nyali Jipang. Juga untuk mengukuhkan Hadiwijaya sebagai penguasa baru di Demak yang sebentar lagi akan dipindahkan ke Pajang. Karena penghalang utamanya yaitu Penangsang telah berhasil mereka singkirkan.
Sementara, Penangsang sendiri dalam diam dan senyap meloloskan diri ke Kudus. Di tengah sakitnya, Sunan Kudus mewasiatkan agar Penangsang hijrah ke tanah seberang. Palembang yang menjadi tujuannya. Namun sebelum ke Palembang, Penangsang meminta restu dulu ke Sunan Giri Kedaton sekaligus berziarah  ke makam-makam para Sunan yang telah meninggal terlebih dahulu. Di antaranya makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Maulana Malik Ibrahim.
Dalam memulai perjalanannya ke Giri Kedaton, Penangsang ditemani adik-adiknya dan patih Jipang  Ronggo Buwono dan Ronggo Maruto. Dari Giri Kedaton kemudian berziarah ke makam-makam sunan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jepara untuk bertemu Retno Kencono, Istri Hadiri. Kemudian perjalanan dilanjutkan singgah di Demak . Makam kakek dan juga ayahandanya. Di Demak juga merupakan tempat yang tak asing bagi Penangsang waktu kecil. Akan tetapi menjadi sangat asing dan menyakitkan selepas wafatnya Sultan Trenggono. Di Demak terjadi intrik dan tragedi oleh mata-mata Pajang.
Kepergian Penangsang dan kematian Penangsang palsu ternyata akhirnya terendus juga oleh Pajang. Bahwa yang meninggal berkalung usus bukan Penangsang. Penangsang melarikan diri ke tanah seberang. Semua itu terendus dan segera disebar mata-mata Pajang ke Demak, Kudus, dan Giri Kedaton. Akhirnya ketika Penangsang sedang berziarah di Demak itu mata-mata Pajang ingin membunuh Penangsang dan Mataram dengan senjata sumpit beracun mematikan. Untung saja sumpit yang mengenai tubuh Penangsang segera bisa dibersihkan dan diberi penawarnya oleh tabib handal Demak.
Penangsang melanjutkan perjalanan ke Cirebon untuk bertemu Sunan Gunung Jati. Mata-mata yang menguntit Penangsang terus memburu hingga ke Cirebon juga. Karena tahu ada mata-mata, rombongan perahu Penangsang segera melanjutkan perjalanan ke Jayakarta. Dan melanjutkan ke Banten. Sampai di Banten pun ternyata mata-mata Pajang juga sudah sampai di Banten. Rombongan perahu Penangsang akhirnya melanjukan ke tanah seberang. Di sanalah Penangsang memulai membangun kesultanan sebagaimana kebesaran Demak Bintoro.

Thursday, 23 June 2016


Mengajak orang lain untuk berbuat baik, meninggalkan kebiasaan buruk itu tidak bisa dikatakan mudah. Karena ini bertentangan dengan tabiat manusia yang cenderung suka enak, santai, bebas dan suka-suka. Manusia cenderung tidak suka diatur-atur oleh apa pun. Kecuali mereka yang memiliki ketundukan kepada Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka faham betul untuk merasakan bahagia dan sentausa adalah dengan mengikuti petunjuk yang telah diturunkan. Oleh karena itu, mereka tunduk kepada petunjuk itu demi kebahagiaan dalam kehidupannya. Rela mengekang nafsu dan tabiat santai, bebas, suka-suka karena itu semua berasal dari bisikan syetan yang hanya akan menjerumuskan pada keadaan jauh dari petunjuk.
Orang beriman selain tunduk dan patuh secara individu, memiliki tugas untuk menyebarluaskan petunjuk dari Allah swt itu kepada orang di luar dirinya agar kebahagiaan itu terwujud dalam kehidupan bersama. Proses menyebarluaskan inilah yang disebut dakwah. Dakwah itu ibarat jalan yang penuh duri. Tak mudah dilalui. Bisa mengakibatkan sakit pada diri. Tapi ia harus dilalui, agar bisa mencapai tujuan. Karena, kebahagiaan tak bisa diraih hanya dengan sholeh secara induvidu. Tetapi sosial.
Dalam proses mengajak, mengajarkan, menyebarluaskan petunjuk itu perlu seni. Perlu trik yang memungkinkan petunjuk itu bisa diterima orang yang memiliki kecenderungan suka enak, santai, bebas, tak mau diatur. Kalau tanpa seni, trik, dan tata cara yang cantik, orang-orang yang memang memiliki kecenderungan tersebut di atas justeru akan menjauh, kurang simpatik, bahkan memusuhi dan menghambat. Tentunya kita masih ingat kisah para Wali atau yang dikenal Wali Songo di tanah Jawa dalam berdakwah menyebarkan petunjuk dari Al Quran dan Sunnah. Mereka menghadapi masyarakat yang sudah lekat dengan keyakinan dan kepercayaan lama yang mendarah daging. Jelas, ajaran itu banyak yang bertentangan dengan ajaran dalam Al Quran dan Sunnah. Berbagai trik, seni berdakwah, maupun cara-cara nan cantik menjadikan dakwah yang mereka usung benar-benar menyebar luas ke seluruh penjuru Nusantara. Trik, seni berdakwah, tata cara nan cantik itu tentunya tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah itu sendiri. Mereka, para pendahulu dakwah di Nusantara tentunya faham betul tentang hal ini. Mereka ulama terkemuka, bukan hanya sekadar orang-orang yang mengaji satu, dua, atau tiga tahun kemudian seolah merasa sudah mafhum betul tentang halal haram.
Wali Songo itu ada yang utusan langsung dari Kekhalifahan Islam pada waktu itu ada pula ulama yang memang sudah menuntut ilmu ke Jazirah Arab langsung. Utusan dari kekhalifahan itu tentunya bukan orang sembarangan. Tentunya orang-orang pilihan. Sebutlah Maulana Malik Ibrahim, Jakfar Shodiq, Makdum Ibrahim dan lain-lain. Mereka ulama terkemuka. Mereka menghadapi kondisi masyarakat di Nusantara yang sudah berkeyakinan. Menganut kepercayaan meski tak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Justeru di sinilah titik kesulitannya. Mereka harus berdakwah kepada orang yang sudah terisi keyakinannya. Sulit untuk mengubah keyakinan yang sudah mereka percaya turun temurun dan mendarah daging. Akhirnya Wali Songo berhasil memasukkan Islam, menancapkan dakwah di Nusantara dengan berbagai seni dakwah nan cantik. Hampir tanpa penaklukan dengan pedang. Dakwah dengan penuh kedamaian. Dan kita di era sekarang merasakan umat Islam sebagai umat terbanyak di bumi Nusantara ini.
Namun, upaya Wali Songo dalam berdakwah dengan berbagi media seperti kesenian wayang, gamelan, kidung atau tembang, dan prosesi-prosesi lainnya mendapat sorotan tajam dari orang-orang yang datang belakangan. Orang-orang yang tahu-tahu sudah berhadapan dengan masyarakat yang mayoritas muslim. Mereka menghakimi hanya dengan boleh dan tidak boleh. Haram dan halal. Ada tuntunannya (dari Rasul) atau tidak ada tuntunannya. Dengan mudah mereka membid’ah kan, mengharamkan apa-apa yang kadang hanya dijadikan sarana juru dakwah terdahulu yang mereka notabene menghadapi masyarakat yang berkeyakinan lain dan sudah mendarah daging. Wal hasil, banyak pertentangan di masyarakat yang kadang sampai memanaskan situasi kemasyarakatan yang harmonis.
Perlu disadari bahwa menuntun itu harus sesuai dengan kemampuan orang yang dituntun. Dakwah yang santun itu lebih mengena. Dakwah itu perlu trik, tata cara nan cantik. Dakwah itu bukan hanya menyebarkan halal haram, boleh tidak boleh, bid’ah atau bukan. Dakwah itu bukan hanya mengkafir-kafirkan. Dakwah itu bukan hanya menghakimi itu dosa itu berpahala. Dakwah itu perlu seni.

Wednesday, 20 April 2016


Silaturahim atau berkunjung ke rumah salah seorang teman atau saudara adalah perkara yang disunnahkan. Akan tetapi budaya saling mengunjungi itu kini semakin terkikis. Ada banyak penyebab terkikisnya budaya terpuji itu. Salah satunya adalah teknologi yang semakin maju. Hanya dengan gadget di genggaman seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh. Hanya dengan gadget di tangan seseorang dengan mudahnya menemukan kawannya yang sekian lama “hilang”. Hanya dengan gadget di pangkuan seseorang bisa mengendalikan sebuah perusahaan besar, bertransaksi jual beli, atau melakukan hal-hal pelik lainnya. Terbukti, teknologi mampu mendekatkan yang jauh.
Dengan teknologi yang semakin maju itu, hampir semua orang beranggapan bahwa tak perlu lagi saling mengunjungi, toh kabarnya sudah bisa dipantau setiap hari. Tidak perlu lagi bertamu, toh dari jauh sudah bisa mendengar suaranya. Tak perlu lagi jauh-jauh repot-repot untuk bertemu, toh dari jauh pun sudah bisa saling bertatap. Dengan anggapan ini, akhirnya budaya silaturahim pun semakin memudar. Masing-masing orang sibuk dengan pekerjaannya, keluarganya, sekolahnya, kuliahnya. Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi penyebab. Tapi, mereka sibuk dengan gadgetnya, sibuk dengna dirinya.
Ada sebagian orang yang merasa teknologi tak mampu menjawab kerinduan untuk bertatap muka. Tak bisa menjawab kerinduan untuk tertawa bersama dalam satu tempat. Akhirnya ada yang memiliki inisiatif untuk bertatap muka. Ia ingin menghubungi saudaranya, karibnya, kawan lamanya untuk bertemu. Coba kita dengar bagaimana ia memulai percakapan melalui telepon genggamnya: “Kawan, bagaimana kabarmu? Lama kita tak jumpa. Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?”. Di seberang sana, terdengar lirih dari genggamannya kawannya menjawab: “Hai... Alhamdulillah baik. Boleh-boleh, silakan ke rumahku. Kira-kira ada perlu apa, ya?” Degub makin kencang jantung kawan yang berinisiatif menelepon tadi. Dia mau menjawab apa? Padahal ia begitu rindu dengan sahabatnya itu. Ada rasa kecewa, mungkin, mendengar kalimat terakhir yang dipertanyakan sahabatnya di seberang sana. Menjadikannya ingin sekali mengurungkan niat untuk bertamu. Akhirnya, kita dengar dia memutuskan: “Ooh..gak ada apa-apa kok.” Setelah itu, ia menutup telepon. Beberapa saat kemudian, terlihat ia duduk termangu. Mencari-cari alasan untuk menggagalkan rencana itu. Sekian menit tak juga ditemukan alasan yang tepat. Alasan untuk mengurungkan niat hendak berjumpa. Karena canggung. Karena ada rasa tidak enak di hati. Tepat ia rasakan setelah mendengar kalimat terakhir di ujung telepon itu. Akhirnya setelah termangu sekian waktu, ia tinggalkan lamunan. Ia beraktivitas kembali. Sejam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ia mengetik pesan singkat: “Maaf, kawan. Besok tidak jadi ke rumahmu. Aku ada acara mendadak.”
Barangkali, kita pun pernah melakukan hal yang sama dengan kawan tadi. Oleh karena itu, ketika ada kawan atau saudara yang mengirim pesan atau telepon untuk berjumpa. Tak usahlah bertanya: “Ada perlu apa, ya?”. Itu termasuk adab dalam kita berkomunikasi dengan sahabat atau kawan yang lama tak berjumpa. Tak usahlah keluar dari mulut kita menanyakan maksud tujuan untuk apa ia mau bertemu kita. Entah dengan kalimat “Ada perlu apa, ya?”, “Mau apa?”, “Emangnya ada apa?”, dan semacamnya. Itu termasuk etika. Sebagaimana ketika kita mau berkunjung ke suatu rumah, setelah mengetuk pintu, maka etikanya adalah memalingkan muka atau menghadapkan wajah tidak ke dalam rumah. Itu etikanya. Itu akhlak baik yang harus dilakukan. Meskipun seandainya melakukan itu pun tidak ada masalah untuk kawan kita. Tapi, orang yang berakhlak baik itu selalu dirindukan. Orang yang berakhlak baik itu memiliki etika dan adab-adab yang semacam itu. Tak bertanya: “Ada perlu apa, ya?” dan semacamnya ketika ada kawan yang menghubungi dan menyampaikan niatnya untuk bertemu atau bertamu.

Saturday, 9 April 2016

Ada seorang bapak yang berbincang dan menyampaikan keluhannya. Ia mengawalinya dengan pernyataaan bahwa shalat itu akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Nyatanya banyak orang shalat tetapi tindakannya banyak yang menyimpang dari kebenaran atau banyak keji dan mungkarnya. Ketika kusampaikan bahwa itu adalah salah orangnya yang belum bisa melahirkan efek shalat dalam kehidupannya beliau pun menyetujuinya.  Artinya, bukan shalatnya yang salah atau Qurannya yang salah dengan menyatakan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi orang yang shalatlah yang belum mampu membawa ruh shalat ke dalam kehidupannya. Bapak ini pun sepakat dengan argumen ini.
Kemudian bapak ini meneritakan juga bahwa suatu ketika anaknya jatuh sakit hingga parah. Beliau menyatakan bahwa selama ini ia aktif di pengajian-pengajian. Yang beliau resahkan adalah di saat beliau di rumah sakit menunggui anaknya yang sakit parah, tidak ada satu pun mereka yang ‘ustadz’ pengisi pengajian atau pemimpin kelompok pengajian itu yang datang ke rumah sakit untuk menengok menguatkan mental dan memberi dukungan padanya. Padahal itulah yang beliau butuhkan waktu itu. Bukan uang dalam amplop atau makanan yang dibawa penjeguk. Namun nyatanya mereka tidak nongol sama sekali. Tak tampak atang hidungnya. Malah justeru aktivis dari agama lain yang datang menjenguk bahkan mendonorkan darahnya.  Sungguh ini suatu yang ironis, kata beliau. Kalau misal keimanannya rapuh, bisa-bisa ia telah pindah keyakinan, begitu tutur beliau.
Begitulah fenomena umat dengan agama syumuliyah ini. Beliau meyakini bahwa yang paling paripurna adalah Islam. Beliau tak menyangkal itu. Tak ada kepercayaan lain yang seilmiah, selengkap, separipurna Islam, imbuhnya. Akan tetapi mengapa orang di luar sana yang malah kadang lebih islami. Mengapa orang islam sendiri malah terjebak pada perilaku-perilaku yang jauh dari nilai islam.
Begitulah, aku tidak membantah, menyangkal, atau membumbui uraian bapak ini. Mari kita tengok sejarah sejenak. Dulu, saat pernag dunia kedua, di sebuah Kamp Nazi, di sana setiap detik terjadi penyiksaan, kekejaman, dan tangisan tanpa henti. Mereka yang disekap ada yang berujar: “mengapa ini terjadi padaku?”. Ada pula mereka yang sayup-sayup terdengar menyuarakan: “Apa yang bisa dan seharusnya saya lakukan di dalam situasi yang semencekam ini?” akhirnya didapati kenyataan bahwa mereka yang menyuarakan yang pertama, rata-rata mati di tiang gantungan atau ruang pembantaian. Sementara mereka yang menyuarakan yang kedua, sebagian besarnya adalah yang bisa selamat. Dengan berbagai jalan.
Itulah dahsyatnya pemaknaan. Memaknai sebuah peristiwa atau keadaan yang dihadapi. Kembali ke bapak yang menuturkan ceritanya padaku tadi. Beliau memaknai shalat dan pengaruhnya pada kaum muslimin. Bahwa banyak kaum muslimin yang shalat tetapi belum bisa membawa ruh shalat itu dalam kehidupannya sehari-hari. Maka kemudian begitulah yang akan terlihat pada bapak itu. Atau, beliau memaknai bahwa shalat ternyata tidak bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Maka kemudian lambat laun membenarkan pernyataan: “buat apa shalat?”. Naudzubillah. Begitu bapak tadi mengalami musibah dengan sakitnya sang anak, lalu memberikan pemaknaan terhadap orang di sekelilingnya, para ustadz, kelompok pengajian yang beliau ikuti. Maka, begitu pula yang kemudian menjadi kebiasannya. Sangat jarang terlihat ikut menjenguk orang sakit. Bahkan malah berhenti pula menghadiri pengajian-pengajian. Begitu yang sempat bapak itu sampaikan dalam obrolan.
Pemaknaan melahirkan pemahaman dalam bawah sadar kita. Yang kemudian bisa saja diperturutkan untuk menjadi pembenaran perilaku. Selalu belajar. Di mana pun dan kapan pun. Mungkin itu penawarnya. Wallahu a’lam bishawab.

Tuesday, 5 April 2016

Ketika gerbong kereta terus berjalan, tak ada alasan untuk meloncat keluar. Binasa. Meski lokomotif mengalami kendala gerbong akan tetap mengekornya. Penumpang gerbong memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana. Tetap di dalam gerbong kereta adalah keselamatan. Kereta akan tetap berjalan meski masinis harus diganti. Kereta akan tetap berjalan degnan siapa pun yang membersamai.
Kita hanyalah penumpang gerbong kereta. Tetap berada di atasnya akan menampaikan kita pada tujuan mana hendak kita singgahi. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan asri di luaran sana. Lihatlah sungai jernih airnya, persawahan subur dengan angin semilirinya, perkampungan damai nan asri, pegungungan yang kekar dan sejuk udaranya. Janganlah tergoda untuk meloncat keluar dari gerbong yang membawamu. Meski pemandangan di luaran begitu melambai. Turun berarti akan tetinggal. Turun berarti tak akan pernah sampai pada tujuan. Turun berarti akan menikmati pemandangan di luaran. Tetapi sesaat. Dengan berdiam di sana pasti akan ada rasa bosan. Sementara kereta telah jauh meningalkan. Dan dalam dirimu hanya ada penyesalan.
Saudaraku, badai pasti akan selalu menebarkan ancaman. Tapi dia akan berlalu. Malam memang mengancamkan pekat. Tapi fajar pasti menyingsing. Mendung tebal selalu menebarkan teror. Tapi ia akan terhapus oleh rintiknya hujan. Sekuat-kuatnya badai, jangan membuat goyah. Perkuatlah peganganmu. Perkokohlah ikatanmu. Bersabarlah. Maka kau akan jumpai indahnya cuaca selepas badai. Indahnya pagi selepas pekatnya malam. Segarnya hujan selepas mendung tebal yang menyeramkan.
Saudaraku, saat suatu pohon mulai besar. Ia mulai akan berbuah. Sunatullah, bahwa tidak semua buah itu bisa dipetik. Dari mereka akan ada yang jatuh tercecer. Ianya yang jatuh ada yang sejak masih sangat kecil. Ada yang saat mulai membesar. Dan ada pula yang hampir siap petik tetapi malah terjatuh. Berpegangan kuat pada dahan dan ranting adalah mutlak. Karena angin akan terus berembus. Melemahkan kita. Kita akan tetap kuat atau terjatuh?
Saudaraku. Perhatikanlah sebuah taman. Nikmatilah warna-warninya. Cium harumnya yang bermekaran. Rasakan semilir angin dan segarnya hawa di bawah pohon besarnya. Tapi, tahukah engkau bahwa berulang-ulang taman itu mengalami penataan. Ada yang dicabut. Ada yang diganti. Ada yang dipangkas daun-daunnya. Terkadang pun harus dirobohkan pepohonan yang besar. Itulah perawatan. Janganlah hanya karena sering merasakan rindangnya di bawah pohon besar lantas engkau memaki-maki saat pohon itu harus ditebang. Jangan engkau bersungut-sungut saat bunga kesukaanmu harus dipangkas. Jangan engkau mengharu biru saat tanaman yang engkau puja dicabut. Indahnya taman itu akan terjaga dengan hal-hal yang kadang engkau tidak suka. Bersabarlah.
Saudaraku. Kita ingat kisah Khalid. Semua tahu wibawanya memimpin pasukan. Setidaknya musuh gentar melihat bahwa Khalid yang memimpin. Ciut nyali musuh saat melihat bahwa pasukan yang dihadapinya dipanglimai Khalid. Saat seperti itu, sesungguhnya ibarat pedag yang terhunus tinggal menikamkan saja. Kuku yang tajam itu tinggal menancapkannya saja pada mangsa. Tapi tidak. Umar Sang Khalifah justeru memberhentikan Khalid saat dia sedang terhunus pedangnya. Andai Engkau sebagai pasukan, apakah akan keluar barisan dan lari dari pertempuran saat mendengar diundurnya Khalid? Padahal lari dari perang yang berkecamuk adalah dosa besar. Tsabatlah.
Saudaraku. Jangan karena ada sosok yang kau kagumi engaku berbaris rapi pada barisan. Tapi ikhlaskanlah karena Allah swt. Jangan karena mundur atau digantikannya pemimpin peleton Engkau menjadikannya pembenaran untuk keluar dari barisan. Jangan biarkan hawa nafsumu menemukan alasan untuk berhenti.  Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati-hati ini berpadu. Kuatkanlah ikatannya. Murnikan cintanya.

Sunday, 27 March 2016

Orang baik itu disukai banyak orang. Akan tetapi orang baik itu belum paripurna menjadi manusia seutuhnya. Sebagaimana yang diperintahkan Sang Pencipta Allah swt. Sebagai manusia yang beriman, kita diperintahkan untukmengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt serta mencegah dari suatu keburukan dan keingkaran. Orang yang baik memang disukai banyak orang. Karena ia tidak mengganggu, tidak bermasalah, tidak bikin repot atau rese. Akan tetapi perlu diibaratkan bahwa orang baik itu ibarat air. Sejernih-jernihnya air jika ia diam pasti akan berakibat yang tidak baik. Air menjadi berbau, tidak sehat dan akan berpotensi tercampur kotoran. Oleh karena itu, agar air jernih itu tetap jernih dan sehat maka ia butuh mengalir.

Demikianlah orang baik. Orang baik mungkin disukai banyak orang. Akan tetapi kebaikannya hanya untuk diinya sendiri. Maka ia perlu menalirkan kebaikan itu untuk orang lain yang ada di sekelilingnya. Agar lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik. Ketika orang baik ini mulai mengalirkan kebaikan itu pada lingkungannya, dimulailah suatu babak yang menyulitkan. Mengalirkan kebaikan itu artinya ia mengajak orang lain kepada kebaikan dan ketaatan. Mengajak seseorang pada kebaikan itu namanya dakwah. Sejak ia mengajak dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain maka jalan penuh duri mulai dilalui. Tapi itulah tantangan. Itulah sunatullah dakwah. Maka dari itu kemudian dakwah disebut dengan jalan yang penuh onak dan duri. Tidak semua orang mampu dan bertahan di jalan itu. Hanya orang terpilih yang mampu bertahan di jalan penuh duri itu.
Ketika seseorang memulai dakwahnya, maka ia harus bersiap dengan duri-duri yang akan menghadangnya. Cemoohan, pelecehan, permusuhan adalah diantaranya. Banyak orang yang gagal bertahan, tidak istiqamah. Akhirnya mundur teratur. Balik lagi menjadi orang baik yang tidak mengalirkan kebaikan. Padahal dengan rintangan dan halangan itu pahala Allah swt mengalir. Dengan rintangan itu menjadilah seorang baik menjadi pribadi yang kuat. Dengan rintangan itu pula akan dirasakan manisnya ketika meraih kemenangan.
Tidak semua aktivis dakwah yang mampu bertahan. Butuh ketebalan iman dan energi berdakwah yang kokoh. Mereka yang tidak kuat akan kembali menjadi orang baik atau bahkan berubah total seratus delapan puluh derajat menjadi ahli maksiat, naudzubillah. Mereka yang dulu berapi-api kini surut tanpa nyala. Dulunya luar biasa energik dalam berdakwah kini tak tampak batang hidungnya. Jelas, mereka tertinggal oleh kereta dakwah. Namun yang patut diingat bahwa dakwah tidak butuh orang-orang seperti itu. Kereta Dakwah akan tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Kita akan tertinggal kereta itu atau akan tetap di dalamnya. Hidup adalah pilihan. Menjadi orang baik atau tidak baik. Mendakwahkan atau diam. Bertahan atau mundur. Keputusan ada di tangan kita. Orang baik disuka banyak khalayak. Akan tetapi penyeru kebaikan dimusuhi banyak orang. Bertahanlah.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!